Wisma Akhwat Ma’had Thaybah

Khadijah Binti Khuwailid, Sayyidah Quraisy yang suci

Posted on: July 24, 2008

Pemimpin wanita di alam semesta di masanya adalah puteri khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab Al-Quraisyi Al-Asadi yang dijuluki sebagai “wanita yang suci”. Ia dilahirkan di rumah yang mulia dan mempunyai kedudukan tinggi, kurang lebih 15 tahun sebelum tahun Gajah. Dia tumbuh di dalam salah satu rumah dari rumah-rumah yang mulia (yang menyebabkan) dia menjadi sosok wanita yang cerdas lagi mulia. Ia terkenal sebagai wanita yang memiliki kemauan yang kokoh dan akal yang cerdas serta adab sopan santun yang tinggi. Karena itu dia menjadi pusat perhatian kaum lelaki yang menjadi pemimpin dari kaumnya.

Dia pernah dinikahi Abu Halah bin Zurarah At-Tamimy. Perkawinannya dengan suami ini melahirkan Halah dan Hindun. Tatkala Abu Halah meninggal dunia, dia diperistri oleh Atiq bin Aidz bin Abdullah Al-Makhzumy. Setelah hidup bersamanya beberapa waktu, keduanya kemudian bercerai.

Setelah itu banyak tokoh-tokoh Quraisy yang berusaha meminangnya tetapi ditolak karena ia ingin mendidik anak-anaknya dan menjalankan usaha perdagangan. Dia adalah seorang wanita yang kaya raya lagi berharta. Dia juga memperkerjakan beberapa orang untuk menjalankan dagangannya dan memberikan upah dengan sistem bagi hasil. Tatkala berita tentang sifat kejujuran, amanah, dan akhlaq Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sebelum diutus sebagai Nabi sampai kepada Khadijah, spontan dia meminta kepada beliau agar mau menjalankan dagangannya ke Negeri Syam bersama seorang pemuda bernama Maisarah dengan upah yang lebih banyak daripada upah yang diberikan kepada yang lainnya.

Orang yang jujur dan terpercaya tersebut menyetujui lalu dia safar bersama Maisarah. Allah memberikan kemudahan kepada Rasulullah dalam menjalankan usaha ini sehingga perdagangan tersebut menghasilkan untung yang sangat besar. Khadijah merasa gembira terhadap keuntungan yang banyak yang dia peroleh melalui tangan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam ini. Akan tetapi dia lebih kagum terhadap kepribadiannya yang sangat agung dan mendalam.

Datanglah pikiran-pikiran ke dalam benaknya yang dicampuri perasaan menggelora yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Ini adalah sosok laki-laki yang tidak seperti keumuman laki-laki lainnya dan…dan…

Akan tetapi dia berfikir apakah pemuda yang jujur lagi terpercaya mau menerima pernikahannya, sedangkan umurnya telah mencapai 40 tahun? Bagaimana pula reaksi kaumnya, sementara dia telah menolak lamaran para tokoh Quraisy?

Ketika fikirannya dalam keadaan bingung dan resah, temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih datang menemui. Mereka duduk bersama sambil berbincang-bincang. Dengan kecerdasannya, Nafisah binti Munabbih mampu menyingkap rahasia yang terpendam di atas sifat malu dan tekanan suara pembicaraan Khadijah.

Nafisah binti Munabbih berhasil menenangkan hati Khadijah dan menentramkan gejolak jiwa yang sedang membara. Nafisah mengingatkan Khadijah bahwa dia merupakan orang yang mempunyai garis nasab yang baik, kaya dan memiliki wajah yang cantik. Dan Nafisah mengatakan hal ini kepada Khadijah dengan jujur, dikarenakan banyak laki-laki mulia yang mengincarnya.

Tidak lama kemudian keluarlah Nafisah dari rumah Khadijah dan bergegas ke tempat orang yang (paling) terpercaya (Rasulullah) dan dengan cepat dia mengajukan pertanyaan kepadanya: “Wahai Muhammad, apa yang menyebabkan engkau tidak menikah?”

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Tidak ada sesuatu yang bisa saya pakai untuk menikah.” Nafisah tersenyum sambil berkata: “Jika engkau diberi dan diminta menikahi wanita yang berharta, rupawan, mulia dan cukup, apakah engkau menerimanya?”

Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya: “Siapa?” Nafisah berkata: “Khadijah binti Khuwailid.” Dia berkata: “Kalau dia setuju, maka saya terima.”

Kemudian Nafisah pergi untuk memberikan kabar gembira kepada Khadijah, (sementara) manusia terpercaya itu segera mengkhabarkan kepada paman-pamannya tenntang keinginannya untuk menikah dengan Khadijah. Maka Abu Thalib dan Hamzah beserta paman Nabi yang lainnya pergi ke rumah paman Khadijah, yaitu Amr bin Asad untuk meminang keponakannya sekaligus menentukan maharnya.

Tatkala akad nikah telah sempurna, hewan-hewan telah disembelih dan dibagikan kepada para fakir dan rumah Khadijah dibuka untuk para keluarga dan kerabat, tiba-tiba Halimah As-Sa’diyah hadir di tengah-tengah mereka untuk menyaksikan anaknya yang telah dia susui (Muhammad). Setelah itu dia kembali ke kaumnya dengan membawa 40 kepala kambing sebagai hadiah dari pengantin puteri yang mulia untuk sang ibu yang telah menyusui Muhammad sebagai pengantin laki-laki yang tersayang.

Wanita yang suci, tuan bangsa Quraisy tersebut, telah menjadi istri Muhammad, pemuda yang terpercaya. Dia menjadi permisalan yang sangat tinggi dan agung dalam kecintaan terhadap suaminya dan pengutamaannya terhadap apa-apa yang dicintai oleh suaminya. Tatkala dia melihat suaminya mencintai bekas budaknya yaitu Zaid bin Haritsah, maka dia menghadiahkan Zaid tersebut kepadanya.

Tatkala suaminya menyukai salah satu anak pamannya Abu Thalib agar bisa berbaur dengannya, maka dengan kesukaannya itu Khadijah memberikan keluasan kepada Ali Radhiyallahu’anhu untuk mendapatkan kesempatan yang banyak supaya bisa mendapatkan pelajaran akhlaq dari suaminya Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Allah menganugerahi kepada rumah tangga yang penuh kebahagiaan tersebut kenikmatan demi kenikmatan. Allah mengkaruniai anak lelaki dan perempuan kepada mereka berdua, yaitu Al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fathimah.

Allah memberikan kesukaan ber-khalwat (memisahkan diri dari keramaian manusia) kepada orang yang terpercaya lagi jujur tersebut. Sehingga tidak ada sesuatu yang lebih dia sukai daripada ber-khalwat sendirian.

Dia melakukan peribadatan di gua Hiro selama sebulan penuh pada setiap tahun. Di gua tersebut dia tinggal selama beberapa malam dengan membawa perbekalan yang sedikit. Kedudukan Muhammad jauh dari aktivitas dan permainan penduduk Mekkah yang sia-sia dan peribadatan mereka terhadap berhala dan…dan…

Khadijah, tuan yang suci tersebut, tidak menghalangi kesukaan ber-khalwat ini, meski terkadang aktivitas ini menjauhkan Muhammad dari dirinya. Dia juga tidak mengajukan berbagai pertanyaan yang berlebihan dan gosip-gosip terhadap perenungannya yang bersih itu. Bahkan Khadijah berupaya dengan maksimal untuk melindunginya dengan melakukan penjagaan dan menciptakan suasana yang tenang selama dia berada di rumah.

Ketika Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berangkat ke gua, kedua matanya memperhatikannya dari jauh, bahkan dia mengutus orang untuk mengawasi dan menjaga dari belakang dengan tanpa mengusik ketenangan khalwat-nya.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tetap dalam keadaan demikian itu sampai waktu yang Allah kehendaki. Kemudian jibril mendatanginya ketika beliau berada di gua Hiro pada bulan Ramadhan dengan membawa kemuliaan wahyu dari Allah. Kemudian dia kembali ke rumahnya di kegelapan fajar dalam ketakutan yang luar biasa. Wajah pucat dan badan gemetar sambil berkata: “Selimuti aku, selimuti aku.”

Setelah Khadijah meminta keterangan yang apa terjadi, Muhammad berkata kepada isterinya: “Wahai Khadijah, aku khawatir terjadi sesuatu pada diriku.”

Lalu Khadijah yang saying dan berakal berkata dengan meyakinkan suaminya: “Allah akan menjaga kita wahai Abukl Qasim, bergembiralah wahai anak paman dan tenangkanlah dirimu. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya saya berharap engkau menjadi Nabi ummat ini. Demi Allah engkau tidak akan dihinakan oleh Allah selama-lamanya. Sesungguhnya engkau orang yang menyambung hubungan baik dengan saudara senasab, berbicara jujur, engkau membantu yang lemah, menjamu tamu, dan engkau orang yang membantu para wakil-wakil kebenaran.”

Hati Nabi menjadi tenang atas pengokohan ini dan kembali tentram di hadapan pembenaran dan keimanan istrinya terhadap apa yang dia bawa. Wanitia berakal lagi bijaksana tersebut tidak cukup melakukan demikian itu. Bahkan dalam waktu yang cepat dia pergi ke anak pamannya (Waraqah bin Naufal) dan mengabarkan kepadanya tentang apa yang terjadi pada diri suaminya. Tidak ada respon dari anak pamannya tersebut kecuali ia berteriak sambil berkata: “Ruh suci…ruh suci! Demi Dzat yang jiwa Waraqah ada di tangan-Nya. Jika engkau berkata benar wahai Khadijah, sesungguhnya dia telah didatangi oleh Namus yang besar (Malaikat Jibril) yang telah mendatangi Musa dan Isa. Sesungguhnya dia adalah Nabi umat ini. Maka katakanlah kepadanya agar dia tetap tegar.”

Lalu Khadijah bergegas kembali kepada suaminya yang tersayang untuk menyampaikan kabar gembira itu. Kemudia Khadijah datang lagi ke rumah Waraqah dengan suaminya, agar dia mendengar langsung berita gembira tersebut dari anak pamannya.

Tidaklah Waraqah memandang sekejap di saat Muhammad datang kepadanya (kecuali) dia berteriak: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya engkau adalah Nabi umat ini, sesungguhnya engkau akan didustakan, akan disakiti, diusir, bahkan dibunuh. Jika aku masih hidup pada hari itu, tentu aku akan membela agama Allah dengan sebenar-benar pembelaan yang Dia ketahuinya.” Kemudian Waraqah mendekatkan kepalanya kepada Muhammad lalu dia mencium ubun-ubunnya.

Kemudian Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam berkata: “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab: “ Ya, tidaklah seorang yang datang dengan membawa sesuatu seperti apa yang engkau bawa kecuali dia akan dimusuhi. Duhai, seandainya saya masih muda…duhai seandainya saya masih hidup.” Tidak berselang lama setelah itu Waraqah meninggal dunia.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bergembira dengan kabar yang telah didengarnya. Adapun rasa takut yang pertama kali muncul (telah hilang), karena Beliau mengetahui bahwa berdakwah di jalan Allah pasti akan mengalami berbagai hambatan, gangguan, ejekan bahkan siksaan dari kaum musyrikin. Dan ini merupakan ketetapan Allah selaku penguasa alam semesta terhadap para Nabi dan para da’I yang menyeru kepada manusia untuk beribadah kepada-Nya.

Khadijah adalah manusia pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sekaligus orang yang pertama masuk islam. Istri yang tercinta dan beriman tersebut berdiri di sisi Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sang suami yang tercinta, untuk memberikan pembelaan dan bantuan. Menolongnya dalam menghadapi siksaan dan gangguan yang sangat bengis. Dengan sikap yang demikian itu, Allah meringankan Nabi-Nya.

Seperti ketika beliau mendengar jawaban yang tidak menyenangkan dan pendustaan terhadapnya dimana hal itu menyedihkannya. Tiada lain Allah melapangkan hatinya melalui Khadijah tatkala beliau kembali kepadanya. Dikokohkan dan diringankan beban suaminya, diremehkan caci maki dan cercaan manusia kepada dirinya serta Khadijah mengambil ayat-ayat Al-Qur’an untuk diperlihatkan kepadanya. Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

Artinya : ”Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.” [QS. Mudatsir : 1-7]

Sejak saat itu, Rasul yang mulia mulai memasuki kehidupan baru yang berkumpul di dalamnya keberkahan dan kesulitan. Beliau mengabarkan kepada istrinya yang mukminah bahwa masa tidur dan istirahat telah usai.

Mulailah Khadijah Radhiyallahu’anha menyeru kepada Islam di sisi suaminya dengan perkataan dan perbuatannya. Dan hasil yang pertama dari seruan tersebut adalah (masuk Islamnya) bekas budaknya yaitu Zaid bersama 4 puterinya, semoga Allah meridhoi mereka. Ujian keras mulai menimpa kaum muslimin dengan bentuk yang berbeda-beda. Sedangkan Khadijah tetap berdiri bersama suaminya dengan kokoh seperti gunung yang tinggi puncaknya dalam rangka menunaikan firman Allah Subhanahu wa ta’ala:


Artinya : ”Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” [QS. Ankabut : 1-2]

Allah telah mengambil anak laki-lakinya yaitu Al-Qasim dan Abdullah ketika keduanya masih berusia kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar dengan mengharapkan pahala dari Allah. Dia juga menyaksikan wanita yang pertaman syahid di dalam Islam yaitu Sumayyah yang mengalami sakaratul maut di atas tangan para thaghut sampai ruhnya menghadap kepada sang Pencipta dalam keadaan sangat agung dan mulia.

Khadijah kemudian berpisah dengan anak perempuan yang merupakan belahan jiwanya yaitu Ruqayyah istri Utsman Radhiyallahu’anhu dikarenakan harus hijrah ke Negeri Habasyah dalam rangka menyelamatkan agama dan menghindar dari gangguan orang-orang musyrik. Khadijah menyaksikan dan mengalami dari masa ke masa situasi kritis disertai dengan kondisi yang menakutkan dan penuh dengan perjuangan. Meskipun demikian, rasa putus asa tidak dirasakan di dalam hati wanita yang berjiwa pejuang ini. Sehingga dalam waktu yang singkat itu, dia benar-benar telah mengamalkan firman Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi:

Artinya: “kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan.” [QS. Ali Imran : 186]

Sebelum itu semua, dia telah menyaksikan suaminya yang jujur lagi terpercaya dalam berdakwah kepada Allah menghadapi berbagai macam bala, Khadijah selalu bersabar dan hanya mengharap wajah-Nya. Di saat mendapat ujian, kesabaran dan imannya semakin bertambah.

Muhammad menolak semua harta dunia yang memikat lagi murah ketika ditawarkan untuk ditukar dengan aqidahnya. Beliau bersumpah dalam sikapnya tersebut, yang mana Khadijah belum mengetahui sifat kemanusiaan yang serupa pada dirinya walaupun setapak kaki semut. Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan pernyataan kepada pamannya: “Demi Allahwahai pamanku, kalau seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tanga kiriku agar aku meninggalkan perkara ini, tentu tidak akan aku tinggalkan sampai Allah memberikan kemenangan atasnya atau membinasakan yang lainnya”

Seperti inilah Tuan wanita yang berjihad yaitu Khadijah dalam mengambil hiburan yang -sangat agung dan ayat-ayat yang mengokohkan keimanan yang mengagumkan dari suaminya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Karena itu tatkala Quraisy melakukan pemutusan hubungan terhadap kaum muslimin, yaitu pemboikotan hubungan politik, ekonomi, dan kemasyarakatan kepada mereka, dan menuliskannya di lembaran yang digantungkan di tengah Ka’bah, maka kita mendapatinya dalam keadaan tidak ragu dalam mengambil sikap bersama kaum muslimin di lembah Abu Thalib yang terpisah dari rumahnya yang dicintai. Di lembah tersebut dia menghabiskan waktu selama 3 tahun dalam keadaan sabar bersama Rasul dan orang yang bersamanya dari kalangan shahabat, dalam melawan kebobrokan pemboikotan yang menyiksa dan kekuasaan berhala yang angkuh.

6 bulan setelah pemboikotan tersebut berakhir, Abu Thalib meninggal dunia. 3 tahun sebelum hijrah wanita mujahidah yang selalu mengharap wajah Allah itu dipanggil untuk menghadap Allah.

Musibah bertubi-tubi menimpa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam secara beruntun dengan meninggalnya Khadijah sang pendamping yang jujur dalam membela Islam.

Seperti inilah jiwa yang tenang tersebut kembali kepada Tuhannya ketika ajal yang telah ditetapkan telah usai. Dia menjadi contoh yang sangat mengagumkan dan paling jujur dalm berdakwah kepada Allah serta berjihad di jalan-Nya.

Dia merupakan sosok istri yang bijaksana yang telah menentukan perkara-perkara sesuai denga ukurannya dan mengeluarkan segala sesuatu yang dimilikinya dalam rangka menggapai keridhoan Allah dan Rasul-Nya.

Dengan sebab itu, dia berhak menerima salam dari Tuhannya dan kabar gembira dengan sebuah istana di surge untuknya yang terbuat dari emas dan permata, yang tidak ada suara riuh rendah (bising) dan tidak pula ada kemarahan di dalamnya.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Sebaik-baik wanita di bumi di masanya adalah Maryam binti Imran dan sebaik-baik wanita di bumi di masanya adalah Khadijah binti Khuwailid”

Ya Allah, ya Tuhan kami, ridhailah Khadijah binti Khuwailid seorang wanita mulia lagi suci, seorang istri yang selalu memenuhi janji lagi jujur, dan wanita mukminah mujahidah di jalan agamanya dengan mengerahkan semua harta miliknya. Semoga Allah membalasnya dengan sebaik-baik balasan karena jasanya terhadap Islam dan muslimin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • ummahat: Sama-sama, semoga berkenan,, do'akan semoga kami istiqomah untuk mengupdate artikel-artikel di sini
  • ummahat: Amiin
  • ummahat: Afwan kalau operator sangat lama tidak mengupdate, insyaAllah kami akan membuat perbaikan, rencana jika server thaybah.or.id sudah aktif kembali, maka
%d bloggers like this: